Selasa, 25 Mei 2010

Konsep Garden City untuk Perumahan Ramah Lingkungan


Di dalam pengembangan sebuah perumahan, terdapat peraturan tentang ketersediaan Ruang Terbuka yang telah dirumuskan oleh Pemerintah di dalam Peraturan Perizinan Pendirian Bangunan. Ruang Terbuka ini merupakan sebuah area di dalam tapak yang tidak boleh didirikan bangunan apapun di atasnya, akan tetapi diperbolehkan dibuat perkerasan. Ruang Terbuka dapat digunakan untuk perletakan jalan ataupun Ruang Terbuka Hijau.
Ruang Terbuka Hijau merupakan area dari sebuah tapak yang di dalamnya khusus untuk perletakan tanaman maupun pepohonan. Salah satu fungsi keberadaan Ruang Terbuka Hijau adalah untuk mengurangi pengaruh polusi udara yang akhir-akhir ini semakin besar jumlahnya karena banyaknya aktivitas dari masyarakat yang menghasilkan sisa pembakaran (emisi) yang dibuang ke udara bebas.

Konsep Ruang Terbuka Hijau terdapat di dalam konsep garden city yang memadukan keberadaan kawasan permukiman, kawasan industri, dan kawasan pertanian. Konsep garden city yang diterapkan di dalam perancangan permukiman selalu berusaha menjaga keserasian antara bangunan huni dalam kawasan permukiman dengan keberadaan lahan yang digunakan untuk pembangunan Taman Lingkungan yang melingkupi bangunan huni tersebut. Konsep ini menekankan keberadaan taman yang berada di sekitar lokasi huni sehingga suatu kawasan permukiman harus memiliki area khusus untuk perletakan taman.
Penerapan konsep garden city dapat mengurangi masalah sosial maupun masalah polusi udara, terutama di kawasan kota besar maupun kota berkembang. Konsep ini dicetuskan pertama kali pada tahun 1898 oleh seorang berkebangsaan Inggris, Sir Ebenezer Howard. Konsep ini dibuat untuk menjawab permasalahan yang saat itu sedang terjadi, yaitu untuk mengatasi kemunduran kualitas hidup dam kelestarian lingkungan akibat industrialisasi yang tidak terkendali di dalam wilayah Kerajaan Inggris

Ketika terjadi Revolusi Indusri di Inggris, banyak pabrik-pabrik yang mulai dibangun di dalam kawasan perkotaan Kerajaan Inggris. Pabrik-pabrik ini selain menghasilkan barang-barang kebutuhan, juga menimbulkan efek negatif berupa polusi udara dalam jumlah yang sangat besar karena penggunaan mesin uap tanpa menggunakan penyaring untuk pembuangan udara hasil pembakaran.
Polusi udara yang terjadi diperparah dengan keberadaan perumahan di wilayah perkotaan yang tidak mengindahkan hubungan antara bangunan dengan lingkungan. Bangunan yang ada, umumnya memiliki jarak antar-bangunan yang sangat sempit. Bahkan ada bangunan yang tembok keduanya berhimpitan sehingga tak ada ruang terbuka di antara kedua bangunan tersebut. Selain tidak ada ruang terbuka diantara bangunan-bangunan, wilayah perkotaan di Inggris pada awal Revolusi Industri tidak banyak terdapat pepohonan rindang untuk menyerap polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik.
Begitu perahnya polusi udara yang terjadi hingga salah satu spesies kupu-kupu di wilayah Inggris hampir punah keberadaanya karena habitat mereka tercemar oleh polusi yang disebabkan oleh begitu banyaknya asap dari pabrik-pabrik.
Selain masalah polusi udara tersebut di atas, kondisi masyarakat perkotaan juga terganggu karena pengaruh kurangnya tempat rekreasi di dalam kawasan permukiman. Dengan kesibukan kerja yang tinggi (sebagai akibat dari Revolusi Industri) dan kurangnya kegiatan rekreatif menyebabkan mundurnya kualitas hidup masyarakat. Kemunduran kualitas hidup berkibat pada menurunnya hasil kerja dari masyarakat tersebut.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Ebenezer Howard mencetuskan sebuah konsep permukiman yang ramah lingkungan. Konsep ini diberi nama Garden City, sebuah konsep yang memadukan bangunan di dalam permukiman dengan keberadaan banyak taman yang dibuat di kawasan permukiman tersebut.
Selain perancangan taman di dalam kawasan permukiman, konsep ini juga mengatur keberadaan antara permukiman, industri, dan pertanian. Pembagian kawasan peruntukan ini dibuat agar tidak terjadi kerusakan lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi permukiman maupun menjadi kawasan industri. Selain itu, konsep peruntukan ini juga dapat mengurangi dampak buruk dari industri yang dapat diminimalisir dengan keberadaan kawasan pertanian yang telah di rancang hubungan keduanya.

Salah satu contoh penerapan konsep garden city adalah perancangan kawasan permukiman Candi Baru Semarang. Kawasan permukiman ini dirancang tata guna lahannya oleh seorang arsitek asal Belanda yang bernama Herman Thomas Karsten (1884–1945). Akan tetapi, dalam merancang permukiman Candi Baru, Karsten tidak menerapkan konsep garden city secara murni, namun disesuaikan dengan kondisi lingkungan di Indonesia pada masa itu. Konsep turunan dari garden city ini kemudian disebut dengan konsep tropische staad
Perbedaan konsep tropische staad dengan konsep garden city adalah bahwa tropische staad hanya digunakan untuk menata pemukiman penduduk, sehingga hanya dibagi menjadi zona permukiman dan zona perkantoran pemerintah. Zona perdagangan dan perindustrian tidak disediakan. Sedangkan dalam konsep garden city, suatu kota harus menjadi kota mandiri dengan cara penduduknya bekerja di kota tersebut. Pembuatan kota mandiri tersebut mengharuskan disediakannya kawasan perdagangan dan kawasan industri.
Penerapan konsep tropische staad pada permukiman Candi Baru Semarang terlihat pada peletakan rumah, taman umum, dan ruang terbuka yang mengikuti topografi, kemiringan lahan, dan belokan-belokan. Pembagian tanah dan arah jalan hanya terdiri atas dua ketegori, yaitu jalan utama dan jalan sekunder dengan mengikuti keadaan tanah. Dengan keadaan lahan yang berkontur sehingga masyarakat dapat menikmati pemandangan indah ke laut yang berada di sebelah utara Kota Semarang dari rumah-rumah tinggal serta taman-taman umum.

Selain itu, Karsten juga membagi pemukiman Candi Baru berdasarkan kemampuan ekonomi penduduknya. Zona pertama adalah kampung-kampung yang ada di lereng-lereng bukit diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi lemah dan zona yang kedua adalah perumahan elit bagi masyarakat ekonomi atas. 
Karsten juga melengkapi permukiman Candi Baru Semarang dengan fasilitas-fasilitas Kota seperti fasiltias kesehatan Elizabeth Ziekenhuis (RS Elizabeth) dan Ooglijdershospital (Rumah Sakit Mata William Both), fasilitas pendidikan yaitu Van Deventer School dan Neutrale School Huevel, fasilitas olah raga berupa lapangan, tempat peribadatan yaitu gereja, taman utama yaitu Raadsplein (Taman Diponegoro), dan beberapa taman lainnya, kolam teratai, serta sarana dan prasarana penunjang seperti saluran air dan gas, kantor telepon, dan sarana transportasi berupa bus dan trem listrik untuk menghubungkan antara Candi Baru dengan Kota Semarang Bawah. 

Saat ini, kondisi permukiman Candi Baru Semarang sudah berkembang menjadi salah satu kawasan elit Kota Semarang. Banyak bangunan lama yang telah dirubah menjadi bangunan baru. Meski demikian kita masih dapat melihat pola permukimannya dan konsep tropische staad yang diterapkan di permukiman tersebut hingga sekarang. 


Disusun oleh:
Septia Faril Lukman
Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
e-mail: unfinished_tales@yahoo.co.id

Artikel yang terkait:
Taman untuk Kehidupan Description: Konsep Garden City untuk Perumahan Ramah Lingkungan Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Konsep Garden City untuk Perumahan Ramah Lingkungan


.:: Artikel menarik lainnya ::.

6 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...