Senin, 21 Maret 2011

Alun-alun Kota Magelang


Kota Magelang merupakan salah satu kota besar yang ada di Provinsi Jawa Tengah, terletak 75 km sebelah selatan Semarang dan 43 km dari Yogyakarta. Kota ini memiliki alun-alun yang dijadikan sebagai pusat kota karena letaknya yang sangat strategis di tengah kota. Banyak sekali kendaraan angkutan kota dengan berbagai jalur melewatinya. Dari alun-alun ini orang dapat menjangkau Pecinan atau Jl. Pemuda, JL. Tentara Pelajar, JL. Mayjen Sutoyo, JL. Yos Sudarso, JL. Ahmad Yani, dan JL. Sigaluh.
Disekelilingnya berdiri pusat perbelanjaan dan tempat umum lainnya. Di sebelah timur terdapat Matahari dan Swalayan Gardena serta Magelang Theatre yang merupakan satu-satunya bioskop yang ada. Di sebelah utara terdapat Trio Plaza dan Bank BCA. Selain kedua bangunan tersebut, pada sisi utara juga terdapat gereja Kristen (GBIP). Sementara di sebelah selatan terdapat Kantor Polresta Magelang, Bank BPD dan klenteng Magelang. Di sebelah barat atau yang sering disebut dengan alun-alun barat terdapat sebuah masjid terbesar di Magelang, tempat ini sering dinamakan Kauman. Sebelah utara dari Kauman terdapat gereja Katholik dan pastoran. 

Alun-alun Kota Magelang selain sebagai pusat kegiatan publik, juga dipandang sebagai simbol kerukunan beragama, dikarenakan adanya beberapa sarana peribadatan untuk agama Islam, Katholik, Kristen dan Konghuchu. 
Sementara di sudut sebelah barat laut alun-alun Kota Magelang terdapat menara air peninggalan jaman Belanda. Menara air ini menjulang setinggi kurang lebih 15 m. Sekarang ini menara tersebut digunakan oleh PDAM Kota Magelang sebagai tempat penampungan air yang sanggup memenuhi kebutuhan air bagi warga Kota Magelang. Selain itu, menara air minum dengan desain kolonial yang unik dapat dijadikan sebagai salah satu landmark Kota Magelang. 

Alun-alun Kota Magelang sekarang ini terbuka secara umum. Biasanya alun-alun ini digunakan untuk bersantai di sore hari, tempat penyelenggaraan konser band atau untuk upacara hari besar kenegaraan. Sebelumnya alun-alun ini tidak dibuka untuk umum dan hanya digunakan untuk upacara-upacara tertentu. Pada tahun 2002, Pemerintah Kota Magelang menyusun Master Plan Alun-Alun Kota Magelang, yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk kegiatan renovasi alun-alun. Konsep dasar master plan tersebut adalah untuk menjadikan alun-alun sebagai pusat kegiatan publik bagi warga kota.

SEJARAH ALUN-ALUN KOTA MAGELANG
Prasasti POH dan Mantyasih ditulis pada zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut adanya Desa Mantyasih dan Desa Glangglang. Nama Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh, sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang. 
Magelang yang kemudian berkembang menjadi kota selanjutnya menjadi Ibukota Karesidenan Kedu dan juga pernah menjadi Ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini menjadi kotapraja dan kemudian kotamadya di era reformasi, sejalan dengan pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota.

Pada tahun 1801, Letnan Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles mengangkat Ngabei Danuningrat sebagai Bupati pertama Magelang dan diperintahkan untuk membangun pusat pemerintahan yang terdiri dari alun-alun, kantor kadipaten, dan masjid. Pola awal pembangunan kota yang digunakan Inggris saat itu adalah pola tradisional (kerajaan), dengan kantor kadipaten sebagai replika istana raja. 
Setelah Belanda mengalahkan Inggris dan menguasai Magelang pada tahun 1813, Magelang tumbuh dan berkembang dengan dipengaruhi pola tradisional dan kolonial, atau lebih dikenal dengan pola Indies. Pemerintah Belanda kemudian membangun menara air minum pada tahun 1918, listrik pada tahun 1927, dan jalan-jalan dibuat ulang menggunakan aspal. 
Sebagai ibukota, pola kota Magelang berbeda dengan ibukota kabupaten dan karesidenan lain di Jawa. Jika di kota-kota Jawa terdapat pola penyeimbangan antara penguasa lokal (berhubungan dengan kerajaan) dan kolonial, dengan letak kadipaten di sebelah selatan berhadapan dengan kantor karesidenan atau asisten residen di sebelah utara, dan alun-alun di tengah-tengahnya, Kota Magelang justru tidak menonjolkan keseimbangan tersebut karena pertimbangan fungsi dan alam yang ada. Perletakannya yang tidak menggunakan sumbu utara-selatan. Kadipaten sebagai replika istana raja berada di sebelah utara alun-alun, sementara karesidenan berada di sebelah barat alun-alun. Tidak persis di sebelah barat alun-alun, bahkan sekitar 500 meter dari alun-alun. 
Sementara di selatan alun-alun digunakan sebagai sekolah menengah pamongpraja yang dikenal sebagai MOSVIA. Hal ini merupakan salah satu penyimpangan yang terjadi jika dikomparasikan dengan pola umum kota kolonial dan kota indies di Jawa.
*  *  *  *  *  *  *  *  *
Download paper Alun-Alun Kota Magelang
*  *  *  *  *  *  *  *  *

Artikel terkait:

Berdasarkan Mata Kuliah PERANCANGAN PERKOTAAN 2 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Disusun oleh:
Rahmawati Mujihartini - L2B 007 064
Ria Cipta Sari - L2B 007 065
Septia Faril Lukman - L2B 007 068
Stefanie - L2B 007 069
Stella Maries - L2B 007 070

Sumber:
Description: Alun-alun Kota Magelang Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Alun-alun Kota Magelang


.:: Artikel menarik lainnya ::.

9 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...