Minggu, 06 Maret 2011

Rekomendasi Desain Alun-alun Kota Magelang


Alun-alun Magelang adalah pusat public space di Kota Magelang. Banyak warga yang berkumpul dan beraktifitas di dalam alun-alun dan sekitarnya. Beberapa aktifitas tersebut adalah kegiatan refreshing, jalan-jalan, berdagang, dan bekerja. Setiap hari alun-alun ini selalu ramai dikunjungi warga Magelang dan di sekitarnya.

Kondisi alun-alun Magelang sendiri sudah tertata dengan baik sesuai kebutuhan dari pengunjung. Di dalamnya terdapat ruang terbuka yang luas untuk acara-acara tertentu (semisal perayaan HUT Kota Magelang dan konser musik), area pedagang makanan dan pedagang kelontong, tempat ibadah, pertokoan dan perkantoran, area parkir kendaraan, dan sirkulasi pengunjung.
Tetapi, desain yang diterapkan saat ini telah mengurangi beberapa potensi yang seharusnya dapat diunggulkan untuk menjadi ciri khas Kota Magelang dan juga menghilangkan filosofi alun-alun itu sendiri. Selain itu, jika tidak ada penataan yang baik, maka 10 tahun ke depan alun-alun ini akan sangat ramai dan semrawut. Untuk itu, kami mencoba membuat rekomendasi desain Alun-alun Magelang agar bisa menjadi landmark dari Kota Magelang.

POTENSI DAN MASALAH 
1. Bangunan Ibadah 
Adanya 3 tempat ibadah di sekitar alun-alun Magelang menjadi sebuah keunikan yang tidak ada di kota lain. Tempat ibadah tersebut adalah: Gereja Protestan di sebelah utara, Masjid di sebelah barat, dan Klenteng di sebelah selatan.
Sayangnya, penempatan bangunan-bangunan tersebut seperti tidak ada keterikatan satu sama lain, dengan kata lain tidak ada simbol yang menyatukan ketiganya. Secara simbolis, dapat dikatakan bahwa umat beragama yang ada tidak memiliki hubungan satu sama lain.

2. Vegetasi 
Di sekeliling alun-alun Magelang terdapat banyak pepohonan yang rindang dan berukuran besar, terutama di bagian utara. Pohon-pohon ini banyak digunakan oleh pengunjung sebagai tempat bersantai dan berteduh. PKL juga memanfaatkan bagian utara alun-alun yang banyak pepohonannya sebagai tempat berdagang.

3. Orientasi Alun-alun 
Di dalam perletakan bangunan maupun furniture yang ada di dalam dan sekitar alun-alun Magelang tidak ditemukan adanya sumbu sebagaimana seharusnya sebuah pola pada alun-alun. Sumbu utara-selatan yang menjadi patokan sumbu alun-alun di pulau Jawa tidak tampak di alun-alun Magelang karena di sebelah utara hanya ada Gereja (jika menurut pola umum, seharusnya terdapat rumah adipati), sedangkan di bagian selatan ada markas polisi (jika menurut pola umum, seharusnya terdapat rumah residen) 
Pola uum laun-alun di pulau Jawa yang diterapkan di alun-alun Magelang adalah keberadaan Masjid di sebelah barat alun-alun. Sedangkan bangunan lain, semisal Kantor Pos dan pusat militer terletak tidak sesuai dengan konsep pola alun-alun secara umum.

4. Adanya aktifitas PKL yang Ramai 
Adanya aktifitas PKL yang berdagang di sektiar area alun-alun dapat menjadi sebuah potensi yang dapat dikembangkan sekaligus berpotensi menjadi masalah yang cukup besar. Di satu sisi, PKL dapat menarik agar banyak orang mengunjungi alun-alun. Di sisi lain, jika pertambahan jumlah PKL beserta lokasi dagangnya tidak diatur akan menyebabkan masalah umum yang berkaitan dengan PKL, yakni terganggunya sektor lain seperti sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan, ruang terbuka, utilitas (banyak sampah), dan sebagainya.
Diagram Kondisi Alun-alun Kota Magelang
KONSEP REKOMENDASI DESAIN
Berdasarkan diagram potensi dan permasalahan utama yang ada pada alun-alun Magelang, dapat dilakukan rekomendasi dengan tema “public space sebagai identitas dan sejarah kota”. Tema ini diambil dari fungsi alun-alun Magelang saat ini yang digunakan sebagai pusat kegiatan oleh masyarakat sekitar dan adanya beberapa bangunan bersejarah yang ada di alun-alun. Bangunan kuno yang ada adalah tiga bangunan ibadah, menara air, dan sebuah tugu.
Diagram alur pikir rekomendasi desain
Tiga Bangunan Ibadah
Adanya tiga bangunan ibadah bisa menjadi landmark dari alun-alun Magelang karena tidak ada hal serupa di alun-alun kota lain. Hal tersebut sangat unik karena biasanya alun-alun kota hanya memiliki satu bangunan peribadatan, yakni sebuah Masjid (contoh: alun-alun Yogyakarta dan alun-alun Demak) ataupun sebuah Gereja (alun-alun Surabaya, alun-alun Semarang pada masa kolonial – Taman Srigunting). Selain adanya tiga bangunan ibadah, menara air juga bisa menjadi landmark alun-alun. Bentuknya sangat besar dan terlihat dengan jelas karena berwarna coklat tua di pojok barat-laut alun-alun.
Karena berbagai bangunan bersejarah yang unik, maka perlu adanya upaya agar bangunan-bangunan tersebut menjadi menonjol di dalam rekomendasi desain alun-alun Magelang. Dengan begitu, keunikan alun-alun dengan bangunan bersejarah di sekitarnya bisa menjadi identitas bagi Kota Magelang.

Sumbu
Pada umumnya, pola alun-alun di pulau Jawa yang dibangun pada masa penjajahan memiliki sumbu utara-selatan, yakni dengan adanya rumah Kadipaten dan rumah Karesidenan.
Sedangkan di alun-alun Magelang, keberadaan rumah kadipaten yang awalnya berada di sebelah utara alun-alun telah berubah land-use menjadi sebuah Gereja dan plaza. Kondisi tersebut mengakibatkan alun-alun Kota Magelang tidak memiliki sumbu seperti pada pola alun-alun pada umumnya.
Bangunan-bangunan yang ada di alun-alun juga tidak memiliki keterikatan satu sama lain sehingga mengakibatkan terjadinya dis-orientation.
Site-plan untuk penentuan sumbu
Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka perlu dibuat sebuah sumbu agar penataan alun-alun menjadi lebih teratur dan saling memiliki keterikatan. Pemilihan opsi untuk membuat sumbu baru dibanding mengembalikan sumbu utara-selatan (seperti pola alun-alun secara umum) adalah karena posisi bangunan-bangunan yang berpotensi menjadi landmark kota tidak berada di arah sumbu utara-selatan, yakni Gereja di sebelah utara, menara air di pojok barat-laut, Masjid di sebelah barat, Klenteng di sebelah selatan, dan tugu di pojok tenggara.
Berdasarkan bentuk tapak yang ada (di gambar atas ditunjukkan dengan warna merah), maka didapat sebuah sumbu diagonal yang memanjang ke arah tugu - menara air. Kedua bangunan tersebut juga bisa menjadi dasar perletakan sumbu karena merupakan dua bangunan bersejarah yang ada di dalam alun-alun.
Sedangkan bentuk jalur di dalam alun-alun dipilih dari bentuk dasar segitiga karena bertujuan menjadi simbol pegikat ketiga bangunan ibadah di sekitar alun-alun. Adanya sumbu dan jalur tersebut dapat menjadikan kelima bangunan bersejarah yang ada menjadi lebih menonjol dari sebelumnya sehingga dapat menjadi landmark dan identitas Kota Magelang.

Pohon di Tengah Alun-alun
Keberadaan pohon besar di tengah alun-alun dapat dijadikan sebagai sebuah pusat orientasi semua bangunan yang ada. Kebaradaannya sekaligus menjaga identitas dari pengertian alun-alun
Rekomendasi site-plan
Keterangan Gambar (Konsep Perletakan Ruang di Dalam Alun-Alun)
1. Plaza
Sebuah area kosong yang diletakkan di depan Masjid. Tempat ini difungsikan sebagai area pedagang tiban yang biasanya berdagang pada hari Jum’at. Bisanya pedagang memilih lokasi berdagang di dekat Masjid karena aktifitas pada hari Jum’at di sekitar Masjid sangat ramai pengunjung.
2. Area PKL
Letak area PKL tetap mempertahankan kondisi awal, yakni di sekitar pepohonan di bagian utara alun-alun. Hal ini dilakukan agar PKL tidak merasa terusir dari tempat semula yang sudah nyaman dengan adanya pepohonan rindang.
3. Sitting-group di tengah alun-alun
Dibuat bertrap-trap (bagian tengah paling tinggi) agar pengunjung dapat memiliki kualitas visual ke arah alun-alun secara maksimal.
4. Videotron
Dijelaskan di detail.
5. Patung Diponegoro
Dipindah ke lokasi baru agar memperkuat sumbu yang telah dibuat. Jika berada di tempat awal, keberadaanya serasa sangat jangkal terhadap orientasi dan hubungannya dengan bangunan lain.
A. Masjid Agung Magelang
B. GPIB
C. Klenteng
D. Menara Air
E. Tugu

Tiga bangunan ibadah yang ada masih tampak seperti tidak memiliki unsur yang mengikat satu sama lain. Untuk itu, di desain sebuah simbol yang dapat dijadikan orientasi dan pengikat ketiga bangunan ibadah tersebut.
Simbol tersebut berupa jalur berupa jalur di dalam alun-alun berbentuk segitiga sehingga tiap bangunan ibadah seperti terhubungkan satu sama lain. Jalur tersebut mendapat modifikasi karena adanya pemilihan sumbu dan adanya ruang di tengah alun-alun
Site plan
Pada bagian tidak ada perubahan signifikan pada rekomendasi desain. Perletakan parkir kendaraan tetap berada di sekeliling alun-alun dengan marka garis putih. Hanya dilakukan perapian pada sistem parkir.
Tempat parkir di sisi luar alun-alun
Tanah di alun-alun ditutup rumput dan pepohonan yang telah ada sebelumnya agar suasanya terasa lebih hijau dan sejuk. Perletakan trotoar dan bangunan di dalam alun-alun mengacu pada sumbu yang telah dibuat.
Rekomendasi alun-alun dilihat berdasarkan perpektif mata burung (bird eye)
Torotoar yang ada sekarang ini juga digunakan untuk keperluan selain dari pejalan kaki. Dalam re-desain, trotoar bersih dari aktifitas selain pejalan kaki. Pepohonan rindang di sekitar trotoar tetap dipertahankan.
Penambahan lebar trotoar menjadi 5-6 meter agar pejalan kaki dapat leluasa bersirkulasi. Jika ada aktifitas selain sirkulasi (semisal pedagang keliling dan permainan anak), pejalan kaki tidak akan terlalu terganggu.
Di sepanjang trotoar juga disediakan tempat sampah agar pengunjung dapat menjaga kebersihan
Jalur sirkulasi pengunjung
Rekomendasi dalam activity support adalah pada sitting-goup, lampu taman, tempat sampah, dan penambahan beberapa elemen untuk mendukung aktifitas pengunjung.
· Aktifitas makan dilakukan di sitting-group dekat PKL dan ruang makan yang sempit. Agar aktifitas makan dapat berjalan lancar, maka di sepanjang sisi dalam dekat PKL disediakan area makan dengan perletakan meja-kursi (berbahan beton agar tidak dapat dicuri) tidak terlalu dekat agar masih ada sisa ruang untuk sirkulasi.
Area makan dilengkapi dengan fasilitas tempat cuci tangan dan tempat sampah dengan jarak antar-fasilitas sepanjang + 10 meter agar dapat menjangkau semua tempat makan. Dilengkapi pula dengan lampu taman sebagai penerangan.
Area makan dengan tempat cuci tangan dan tempat sampah
· Di bagian utara alun-alun ada fasilitas permainan anak yang disewakan, yakni mobil-mobilan. Agar anak-anak dapat memanfaatkan fasilitas permainan lain tanpa membayar, disediakan area bermain anak yang letaknya dekat dengan area makan dan sitting-goup. Perletakan tersebut dimaksudkan agar saat anak bermain, orang tua dapat mengawasinya sambil melakukan aktifitas lain, semisal minum dan diskusi di sitting-group.
Area permainan bagi anak-anak
· Di bagian tengah alun-alun terdapat sebuah pohon rindang yang di bawahnya disediakan sitting-group. Dalam re-desain, ketinggiannya dinaikkan agar view dari tempat tersebut lebih banyak. Selain itu, dibuat akses ke area tersebut dengan dibangun trotoar (sebelumnya tidak ada jalur ke tempat tersebut sehingga pengunjung enggan ke sana).
Tempat duduk di bawah pohon beringin
Tempat duduk di bagian tengah alun-alun
· Banyak pengunjung yang datang secara berkelompok, beberapa diantaranya melakukan diskusi di alun-alun. Agar dapat menunjang kegiatan diskusi, desain sitting-goup dibuat saling berhadapan sehingga diskusi menjadi lebih intim. Selain itu, posisi sitting-group ini masih memungkinkan pengunjung untuk menikmati pemandangan sekitar.
Tempat duduk yang berhadapan dapat berfungsi untuk diskusi
· Posisi videotron yang sejajar dengan jalan raya mengakibatkan pengunjung di dalam alun-alun merasa tidak nyaman untuk melihatnya. Sedangkan pengunjung di jalan pun tidak nyaman karena jaraknya dari jalan cukup jauh untuk dapat dinikmati secara visual (sekitar 8 meter).
Re-desain dilakukan dengan inovasi videotron dua sisi, sehingga dapat dinikmati dari sisi depan dan belakang. Pengunjung di dalam alun-alun maupun di jalan dapat menikmatinya.
Letaknya di dalam alun-alun dipindah karena posisinya tidak sesuai dengan garis sumbu yang dibuat. Selain itu, kecepatan arus lalu lintas di tempat semula cukup tinggi (karena jalur luar kota) sehingga tingkat kenyamanan visual tidak optimal. Posisi baru berada di perempatan yang memiliki traffic light sehingga saat kendaraan berhenti, pengendara dapat menikmati tayangan videotron dengan optimal. Posisinya terhadap jalan diletakkan dengan jarak yang sesuai dengan jarak pandang normal agar dapat dinikmati dengan optimal. Jarak videotron-jalan sekitar 8 meter sehingga jarak pengguna jalan-videotron sekotar 10-18 meter.
Videotron dari arah jalan raya
Bangunan bersejarah yang ada di dalam alun-alun adalah menara air (di pojok barat laut) dan tugu (di pojok tenggara). Dengan dibuat sumbu baru yang menghubungkan keduanya, maka kedua bangunan tersebut menjadi lebih menonjol dari sebelumnya.
Sedangkan bangunan bersejarah yang ada di sekitar alun-alun adalah tiga bangunan ibadah, yakni Gereja, Klenteng, dan Masjid. Dengan adanya jalur penghubung, ketiga bangunan tersebut menjadi lebih menonjol dari sebelumnya
Menara air peninggalan zaman kolonial Belanda
Jumlah elemen street furniture yang ada di sekitar alun-alun sangat kurang. Karena itu dilakukan rekomendasi penambahan jumlahnya. Diantaranya adalah: Tempat sampah yang ada di setiap sittinng-group dengan jarak +15 meter agar dapat menjangkau semua tempat. Tiap sitting-group memiliki 2 jenis tempat sampah, sampah daun-makanan dan sampah plastik. Selain berada di sitting-group, tempat sampah juga berada di tempat cuci tangan di area makan.
· Lampu taman dan lampu jalan. Dalam kondisi yang sebenarnya, lampu taman yang ada di alun-alun Magelang sangat sedikit dan tidak berfungsi karena beberapa diantaranya telah rusak. Di dalam re-desain, setiap sitting-group memiliki fasilitas lampu taman sehingga pengunjung yang sedang duduk-duduk mendapat pencahayaan yang optimal.
Tempat duduk (sitting group) di bagian luar alun-alun
Lampu taman di sepanjang jalur di dalam alun-alun
Di dalam jalur di alun-alun juga tersedia lampu taman yang besar sehingga dapat menerangi jalur tersebut.
· Di area yang sangat luas dan adanya kemungkinan terjadi bencana kebakaran di bangunan sekitar alun-alun serta di area makan, maka disediakan hydrant yang airnya berasal dari menara air.

VIDEO REKOMENDASI DESAIN ALUN-ALUN KOTA MAGELANG


*  *  *  *  *  *  *  *  *
*  *  *  *  *  *  *  *  *

Artikel terkait:
8 Elemen Perancangan Perkotaan (Teori Hamid Shirvani) | lihat pembahasan
Alun-alun Kota Magelang | lihat pembahasan

Berdasarkan Mata Kuliah PERANCANGAN PERKOTAAN 2 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Disusun oleh:
Rahmawati Mujihartini - L2B 007 064
Ria Cipta Sari - L2B 007 065
Septia Faril Lukman - L2B 007 068
Stefanie - L2B 007 069
Stella Maries - L2B 007 070
Description: Rekomendasi Desain Alun-alun Kota Magelang Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Rekomendasi Desain Alun-alun Kota Magelang


.:: Artikel menarik lainnya ::.

11 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...