Minggu, 27 Juni 2010

Lawang Sewu


Lawang Sewu adalah salah satu ikon bangunan di kota Semarang. Meski sekarang telah ada Masjid Agung Jawa Tengah, Lawang Sewu tetap menjadi landmark yang sangat terkenal. Lokasinya berada di sisi sebelah utara dari Tugu Muda, monumen utama Kota Semarang. Posisinya menghadap ke arah Tugu Muda dan Museum Mandala Bhakti. Kondisinya saat ini telah mengalami perbaikan sehingga tampak kokoh kembali.
SEJARAH
Pembangunan Lawang Sewu dimulai dari tahun 1863 hingga 1877 dengan gedung yang terbangun hanya sebagian saja dan belum resmi digunakan sebagai kantor perkereta apian. Kemudian pembangunan secara intensif dimulai kembali tahun 1908 hingga tahun 1913 dengan arsitek Prof. Jacob F. Klingkhamer, B.J. Queendag dan para ahli bangunan yang merupakan orang-orang Cina.
Kepastian tanggal peresmiannya sebagai kantor perusahaan perkeretaapian yang mengelola kereta api dengan trayek dalam kota yang disebut NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegcatschapij) terdapat pada salah satu prasasti peringatan ulang tahun Lawang Sewu, yaitu tanggal 27 Agustus 1913 dan baru pada tahun 1920 bangunan tersebut mulai digunakan. Pada saat itu rel kereta api menghubungkan dari Stasiun Tawang di Kota Lama, Lawang Sewu, sampai ke daerah Jomblang.
Pada tahun 1942, Indonesia diduduki oleh Jepang. Oleh karena itu Lawang Sewu kemudian dialihfungsikan sebagai markas tentara Jepang. Saat terjadi penyerbuan tentara Jepang terhadap Lawang Sewu, 5 orang pegawai NIS gugur dalam penyerangan tersebut. Untuk memperingati kelima pegawai NIS tersebut, maka dibangun sebuah tugu peringatan yang mengambil lokasi tepat dimana Tugu Muda sekarang berada (waktu itu, tapak di sekitar Tugu Muda merupakan tapak milik Lwang Sewu). Namun kemudian Tugu Peringatan tersebut dipindahkan ke lokasi di dekat bangunan Lawang Sewu.
Lawang Sewu dari arah Tugu Muda (foto: Agung)
Di depan Lawang Sewu, pemuda Semarang mempertaruhkan nyawa melawan tentara Jepang dalam Pertempuran Lima Hari, yaitu pada tanggal 14-19 Oktober 1945. Peristiwa itu pula yang mendorong warga Semarang sepakat membangun Tugu Muda di tengah proliman pada tahun 1950. Jepang menarik pasukannya setelah kalah pada Perang Dunia II, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya. Selanjutnya, Lawang Sewu digunakan sebagai kantor perkeretaapian milik Indonesia, oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Karena jumlah pegawai PJKA yang sedikit, pada tahun 1949 bangunan tersebut digunakan pula untuk kantor administrasi KODAM IV Diponegoro. Pegawai PJKA yang jumlahnya sedikit itu ditempatkan di bagian belakang bangunan utama yang digunakan untuk pembuatan tiket KA.
Pada tahun 1994, Lawang Sewu disewa oleh PT. Binangun Artha Perkasa (BAP) dan Perumka DAOP IV Semarang dalam perjanjian Memorandum of Understanding. Setelah memiliki kompleks bangunan sendiri (di daerah Watugong pada sekitar 1996)), Angkatan Darat tidak lagi menggunakan Lawang Sewu sebagai markas. Lawang Sewu kemudian ditempati oleh Departemen Perhubungan. Departemen Perhubungan hanya menggunakan Lawang Sewu sekitar dua tahunan. Karena Pajak Bumi dan Bangunan yang sangat besar, maka Lawang Sewu dijual ke pihak swasta.

KONDISI SEKARANG
Rencana kebijakan kota pemerintah kota Semarang mengenai Lawang Sewu hanya memperbolehkannya untuk dimanfaatkan sebagai hotel. Sebuah perusahaan perhotelan asing yaitu Singapore Raffles memenangkan tender tersebut. Namun akibat krisis ekonomi dan bergulirnya reformasi, Lawang Sewu yang tadinya hendak terbangun menjadi terbengkalai. Hingga saat ini mulai direncanakan kembali untuk memfungsikan gedung Lawang Sewu ini sebagaimana awal pembangunannya yaitu sebagai sebuah perusahaan kereta api.

* * * * * * * * *

Berdasarkan produk tugas mata kuliah PELESTARIAN ARSITEKTUR
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Tim Penyusun:
Dhimas Bagus Putranto
Lillahi Asyrotul Akhiroh
Mia Hijriah
Nindya Kirana Putri Description: Lawang Sewu Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Lawang Sewu


.:: Artikel menarik lainnya ::.

2 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...