Jumat, 02 Juli 2010

Candi Borobudur


Candi Borobudur adalah candi terbesar bagi umat Budha. Bahkan dapat dikatakan sebagai candi terbesar di dunia. Candi ini terletak di desa Boro, kecamatan Muntilan, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Luas Candi Borobudur sekitar 2500 km2.

Terdapat beberapa pendapat tentang arti kata "Borobudur". Beberapa pendapat tersebut adalah sebagai berikut.
- "Budhara"
Borobudur berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta, Sambharabhudhara yang diambil kata belakangnya budhara (memiliki arti sebuah gunung yang berteras-teras). Hal ini dikarenakan letaknya berada di puncak bukit dan bentuknya seperti undakan-undakan membentuk sebuah gunung. 
- "para Budha"
Borobudur merupakan ucapan dari kata "para Budha" yang bergeser bunyi menjadi "Borobudur".
- "Bara" dan "Beduhur"
Kata bara merupakan bahasa Sansekerta yang memiliki arti kompleks candi atau biara (beberapa mengatakan bara berasal dari kata vihara). Sedangkan kata beduhur memiliki arti "tinggi" (dalam bahasa Bali berarti "di atas"). Dari perpaduan dua kata tersebut, maka "Borobudur" berarti "sebuah biara yang berada di tempat tinggi".
- "Bore"
Biasanya, nama bangunan (dalam hal ini candi) diberi nama berdasarkan nama tempatnya, nama di daerah pembangunan candi Borobudur adalah desa "Bore". Sedangkan "budur" berarti candi.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Candi Borobudur dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno yang berkuasa di daerah Jawa Tengah. Pembangunannya dimulai ketika Samaratungga (keturunan Wangsa Syailendra) menjadi raja di negara tersebut dan baru selesai pada masa pemerintahan putrinya, Pramuwardhani. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, dapat diketahui bahwa Candi Borobudur telah selesai dibangun pada tanggal 26 Mei 824 Masehi, lebih dari setengah abad sejak mulai dibangun (isi prasasti berdasarkan ungkapan dari Hudaya Kandahjaya).
Bentuk bangunan Borobudur berupa punden berundak yang terdiri dari sepuluh tingkat. Ketinggian puncaknya mencapai 42 meter dari muka tanah. Namun, setelah dilakukan renovasi, ketinggiannya menjadi 34,5 meter karena tingkatan paling bawah tidak dihitung (tingkatan paling bawah dijadikan pondasi/landasan sebagai penahan struktur). Enam tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran, dan satu tingkat paling atas berupa stupa Budha raksasa yang menghadap ke arah barat.


Setiap tingkatan di dalam Candi Borobudur melambangkan tahapan kehidupan manusia (Bodhisatva). Hal ini sesuai ajaran Budha Mahayana (Sidharta Gautama, penyebar agama Budha), bahwa setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan seperti Budha harus melalui beberapa tingkatan kehidupan (dapat dikatakan bahwa Borobudur adalah kitab ajaran Budha dalam bentuk bangunan).
- Kamadhatu
Bagian dasar Borobudur (tingkat 1-2, berbentuk bujur sangkar), melambangkan keadaan manusia yang masih terikat nafsu dunia (kama). Sebagian besar tertutup tumpukan batu yang digunakan sebagai pondasi candi. Pada bagian yang tertutup ini, terdapat 120 panel cerita (relief) Kammawibhangga.
-Rupadhatu
Empat tingkat di atas Kamadhatu (tingkat 3-6, berbentuk bujur sangkar), melambangkan keadaan manusia yang telah dapat melepaskan diri dari nafsu dunia, tetapi masih terikat rupa dan bentuk. Hal ini dilambangkan dalam bentuk patung Budha yang berada di atas selasar lingkaran terbuka tanpa penutup.

- Arupadhatu
Tiga tingkat di atas Rupadhatu (tingkat 7-9, berbentuk lingkaran), melambangkan keadaan manusia yang telah terbebas dari nafsu dunia, rupa, dan bentuk, tetapi belum mancapai khayangan. Hal ini dilambangkan dalam bentuk patung Budha yang berada di dalam stupa yang berlubang-lubang.
- Arupa
Tingkatan paling atas, melambangkan Nirwana (sebuah kesempurnaan hidup tanpa terbelenggu apapun), tempat Budha bersemayam. Hal ini dilambangkan berupa sebuah stupa dengan ukuran sangat besar dan tinggi (dikelilingi oleh 72 patung Budha di Arupadhatu). Stupa tersebut tidak berlubang-lubang seperti stupa lainnya. Di dalamnya terdapat sebuah patung penggambaran Adibudha yang sekarang dipindah ke museum arkeologi, di kompleks Candi Borobudur, untuk keamanan dari pencurian. Patung tersebut dikenal dengan nama unfinshed Budha.
Total kesemuanya terdapat 2672 arca dan 504 patung Buddha.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan, yang ada hanyalah lorong-lorong panjang sempit yang dibatasi dinding. Para umat Budha melakukan upacara dengan berjalan kaki melalui lorong tersebut mengelilingi candi ke arah kiri dari tingkat terbawah hingga tingkat teraras.
Pada seluruh dinding Candi Borobudur terdapat ukiran pada batu yang disebut relief. Relief yang digambarkan di dinding tersebut merupakan penjabaran ajaran Budha. Di dalamnya terdapat sebuah kisah kolosal yang sangat melegenda, bercerita tentang kebaikan melawan kejahatan, yakni kisah Ramayana. Kebaikan dilambangkan oleh Sri Rama yang melawan kejahatan dari Rahwana (Dasamuka). Selain kisah Ramayana, beberapa relief menggambarkan aktivitas pertanian dan pelayaran (menunjukkan bahwa sistem pertanian dan pelayaran berkembang sangat maju).

Seluruh relief ini akan terbaca secara runtut jika kita berjalan mengelilingi Borobudur searah dengan jarum jam (dari pintu masuk, berjalan ke arah kiri). Cara pembacaan relief pad Candi Borobudur disebut mapradaksina (bahasa Jawa kuno) yang berasal dari kata daksina (bahasa Sansekerta) yang memiliki arti "timur". Pembacaan cerita yang tergambar dalam relief dimulai dari sisi kiri pintu gerbang sebelah timur dan berakhir pada sisi kanan pintu gerbang tersebut. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa candi Borobudur menghadap ke arah timur.

Pembagian cerita relief adalah sebagai berikut.

Bagian Candi
Nama relief
Jumlah relief
Kaki candi asli
Karmawibhangga
160 relief
Tingkat I
Latitawistara
120 relief
Tingkat I
Jataka/Awadana
120 relief
Tingkat I
Langkana, Jataka/Awadana
372 relief
Tingkat I
Jataka/Awadana
128 relief
Tingkat II
Gandawyuha
128 relief
Tingkat II
Jataka/Awadana
100 relief
Tingkat III
Gandawyuha
88 relief
Tingkat III
Gandawyuha
88 relief
Tingkat IV
Gandawyuha
84 relief
Tingkat IV
Gandawyuha
72 relief

Total

1460 relief



Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
- Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief penghias dinding batur yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita serial, tetapi pada setiap pigura menggambarkan sebuah cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala sebagai pembalasan. Secara keseluruhan bercerita tentang kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

- Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum" ,sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
- Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju tingkat ke-buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
- Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Tahapan pembangunan Borobudur.
- Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
- Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
- Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
- Tahap keempat
Ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.


Penemuan dan pemugaran Candi Borobudur.
- 1814
Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
- 1873
Monografi pertama tentang candi diterbitkan.
- 1900
Pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
- 1907
Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
- 1926
Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
- 1956
Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
- 1963
Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
- 1968
Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
- 1971
Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
- 1972
International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
- 10 Agustus 1973
Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
- 21 Januari 1985
Terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
- 1991
Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
- 27 Mei 2006
Gempa bumi berukuran 6.2 skala richter telah memusnahkan Yogyakarta. Bagaimanapun Borobudur terselamat.
- 2009
Borobudur tidak termasuk ke dalam 7 keajaiban dunia.

Adapun, candi Borobudur pernah tertimbun tanah hingga tidak terlihat sama sekali. Barulah pada masa penjajahan Inggris di Indonesia, candi Borobudur ditemukan kembali dan digali hingga tampak seluruh bangunannya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa pada awal berdirinya, Candi Borobudur berdiri dikelilingi rawa yang kemudian terpendam karena tertutup lahar Gunung Merapi (lahar ini kemudian mendingin dan menjadi tanah yang menutup seluruh candi). Pendapat ini didasarkan pada prasasti "Kalkutta" yang di dalamnya terdapat tulisan berbunyi "Amawa" yang berarti lautan susu (susu melambangkan lahar Merapi)


*  *  *  *  *  *  *  *  *

Disusun oleh:
Septia Faril Lukman
Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Sumber:
Description: Candi Borobudur Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Candi Borobudur


.:: Artikel menarik lainnya ::.

9 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...