Jumat, 23 Juli 2010

Rumah Bergaya Arsitektur Jengki - Langgam Arsitektur Asli Dari Indonesia

Rumah Jengki di Jalan Mugas I-2, Semarang

Rumah gaya jengki berbeda dengan arsitektur bergaya kolonial, dan bahkan sangat lain dengan arsitektur tradisional yang ada di Indonesia. Sebagai karya arsitektur, rumah bergaya jengki dapat dikategorikan sebagai arsitektur modern khas Indonesia. Mulai tumbuh pada tahun 1950-an ketika arsitek-arsitek Belanda dipulangkan ke negerinya. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia memiliki karya arsitektur jenis ini. 

Pengertian Rumah Jengki 
Menurut morfologi atau pembentukan kata, istilah “jengki” kemungkinan berasal dari kata “Yankee”, yaitu sebutan untuk orang-orang New England yang tinggal di Amerika Serikat bagian utara. Penamaan jengki juga dihubungkan dengan model busana celana jengki yang marak pada saat perkembangan langgam arsitektur tersebut.
Rumah Jengki di Semarang

Latar Belakang Rumah Jengki
Arsitektur jengki di Indonesia hadir karena munculnya para arsitek pribumi yang notabene adalah tukang ahli bangunan sebagai pendamping (bawahan) para arsitek Belanda. Para ahli bangunan pribumi ini kebanyakan hanya merupakan lulusan dari pendidikan menengah bangunan sehingga belum memiliki ilmu tentang arsitektur dengan matang. 
Perkembangan arsitekur jengki dimulai ketika terjadi pergolakan kondisi politik di masa 1950 hingga 1960-an. Pada masa itu, banyak arsitek Belanda yang pulang ke negaranya sehingga di Indonesia hanya tersisa para ahli bangunan dan beberapa sarjana arsitek Indonesia yang belum berpengalaman.
Setelah lama dijajah Belanda, muncul keinginan dari para ahli bangunan tersebut untuk ’membebaskan diri’ dari segala sesuatu yang berbau kolonialisme, termasuk bangunan bergaya arsitektur kolonial. Keinginan yang kuat ini terkendala karena tidak adanya ahli yang bisa meneruskan pembangunan di bidang konstruksi. Pemerintah Indonesia kemudian memanfaatkan siapa saja yang dirasa mampu bekerja dibidang konstruksi meskipun kebanyakan dari mereka hanyalah lulusan Sekolah Teknik Menegah (STM) yang pernah menjadi bawahan arsitek Belanda. 
Dengan semangat kemerdekaan, mereka berusaha menciptakan sebuah ciri arsitektur yang berbeda dengan gaya arsitektur kolonial meskipun kemampuan arsitektural yang mereka miliki terbatas. Akhirnya mereka hanya mampu mengembangkan ciri arsitektur pada penonjolan sisi dekoratifnya saja, bukan pada fungsi dan tata ruang ataupun gubahan massa bangunan. Sedangkan sistem tata ruang yang terbentuk masih terpengaruh ciri arsitektur kolonial. 

Ciri-Ciri Rumah Jengki
Secara umum, ciri-ciri dari rumah bergaya jengki dapat digambarkan sebagai berikut : 
- Menggunakan konsep bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur kolonial. Bentuk ini diduga hendak menjiwai rasa kemerdekaan terhadap penjajahan Belanda. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya seperti lengkung dan kubah yang dihindari oleh arsitektur modern.
Balkon pada rumah jengki

- Menggunakan bentuk atap pelana seperti rumah kampung dengan kemiringan lebih landai dibanding atap rumah kolonial. Terdapat patahan pada bubungan dengan satu sisi lebih rendah agar tercipta celah (perbedaan ketinggian) untuk ventilasi atap. Material atap yang digunakan adalah genteng beton, sirap dan beton pres dengan warna coklat, merah, dan putih. Atap bentuk ini di Kalimantan disebut “anjing menyalak”.
Bentuk atap rumah jengki

- Tembok gewel (gevel) yang timbul oleh atap pelana diberi imbuhan beragam motif, umumnya bentuk kotak dan belah ketupat (wajik). 
- Separuh sisi tembok depan lebih maju dari sisi separuh lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan tidak rata pula. 
- Dinding umumnya dihias beragam motif buatan dari material alam. Ada dinding yang diisi dengan kerawang (rooster) dan ada pula yang ditutup dengan batu alam berbentuk teratur (kotak-kotak) yang disusun tak teratur. Upaya ini memberikan suasana riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern. Adapula dinding yang difinishing menggunakan cat putih.
Tekstur dinding rumah jengki

- Terdapat banyak bukaan berupa jendela kaca, kusen berbahan kayu atau alumunium dengan variasi warna kusen putih, hitam dan coklat. Pada pinggiran jendela, terdapat bordes tebal dari beton.
Border pada jendela

- Penggunaan penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya bebahan beton bergelombang. Bentuk ini merupakan perlawanan terhadap garis lurus datar yang biasa dipakai.
Tiang besi

- Elemen tiang penyangga kanopi biasanya sedikit miring. 
- Finishing warna kontras, meriah dan pastel. Pada kayu dan perabot banyak menggunakan proses pelitur yang berwarna-warni, terkadang diselingi warna gelap.
*  *  *  *  *  *  *  *  *

Untuk mengunjungi beberapa rumah jengki yang masih ada, klik beberapa alamat di bawah ini:
Alamat Rumah Jengki di Pekalongan
Alamat Rumah Jengki di Semarang

*  *  *  *  *  *  *  *  *

Berdasarkan produk tugas mata kuliah "Pelestarian Arsitektur" Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Tim Penyusun Tugas:
Aviady Susetyo
Dunga Ayusthi Vembrika
Junito Perdana G.D.S. 
M. Nurdita 
Septia Faril Lukman
Description: Rumah Bergaya Arsitektur Jengki - Langgam Arsitektur Asli Dari Indonesia Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Rumah Bergaya Arsitektur Jengki - Langgam Arsitektur Asli Dari Indonesia


.:: Artikel menarik lainnya ::.

24 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...