Selasa, 06 Juli 2010

Pelarian Hitler ke Pulau Sumbawa, Indonesia


Seperti yang dicatat pada buku-buku sejarah, diterangkan bahwa Perang Dunia kedua berakhir dengan kekalahan Jerman. Sekutu berhasil menguasai sebagian wilayah Jerman dan bahkan masuk ke Berlin, ibukota Jerman. Pada saat terjepit itulah, Adolf Hitler, pemimpin Nazi (partai berkuasa di Jerman yang membawa dunia dalam peperangan akbar), dikabarkan bunuh diri bersama istrinya, Evra Braun. Namun, mayat keduanya tidak pernah ditemukan. Siapa yang menyangka bahwa Hitler dan istrinya ternyata tidak bunuh diri sebagaimana yang diceritakan di buku sejarah? Tetapi melarikan diri ke Pulau Sumbawa, Indonesia?

Dokter Sosrohusodo adalah salah seorang yang berpendapat bahwa Adolf Hitler tidak pernah bunuh diri. Keyakinannya ini beliau peroleh dari pengalamannya sewaktu bekerja di sebuah rumah sakit di Pualu Sumbawa pada tahun 1960. Ketika di sana, dokter Sosrohusodo bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman yang bernama dokter Poch. Beliau berkeyakinan bahwa dokter Poch adalah Adolf Hitler yang melarikan diri ketika Jerman kalah total dalam Perang Dunia kedua. Kisah ini diceritakan dalam surat kabar “Pikiran Rakyat” pada tahun 1983. 

Beberapa bukti diajukan untuk menerangkan tentang keyakinannya bahwa Hitler melarikan diri ke pulau Sumbawa, antara lain disebutkan bahwa dokter Poch berjalan tidak normal (kaki kirinya diseret), tangan kirinya selalu gemetar, kumisnya dipotong seperti Charlie Chaplin ataupun Jojon, dan kepala agak plontos. Kondisi dokter Poch sama pesis dengan kondisi Hitler pada masa tuanya (seperti dicatat di dalam buku biografi Adolf Hitler saat kejayaannya berakhir dan pengakuan dari seorang pembantu setianya, Sturmbannführer Heinz Linge).

Pada saat bertemu dengan dokter Poch, dokter Sosrohusodo tidak menaruh rasa curiga pada dokter Poch. Kecurigaannya ini bermula ketika membaca majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980 (setelah sekian tahun dari pertemuan dengan dokter Poch). Di majalah tersebut terdapat artikel berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator” yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Di dalamnya diterangkan cara-cara bunuh diri Hitler bersama istrinya dan kondisi Hitler saat itu. Namun, cara bunuh diri (berupa membakar diri) itu terasa sangat janggal bagi logika. 

“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap dokter Sosrohusodo. 

Di dalam artikel tersebut, terdapat pengakuan Heinz Linge, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer (sebutan bagi kepala negara Jerman, yakni Adolf Hitler) sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.” 

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.” 

Saat membaca artikel itulah, dokter Sosrohusodo teringat beberapa perbincangannya dengan dokter Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, dokter Poch sangat memuji kesuksesan pemerintahan di Jerman dan menyatakan bahwa pembantaian bangsa Yahudi di kamp Auschwitz hanyalah bohong besar dan tidak ada apapun di kamp tersebut. 

Saat berbincang, terkadang dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang selalu gemetar. Kemudian dokter Sosrohusodo memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan apapun sehingga beliau berkesimpulan bahwa “Hitler” hanya menderita parkisonisme karena usianya yang sudah lanjut. 

Dokter Sosrohusodo semakin terkejut, ketika dokter Poch mengaku bahwa dia terkena trauma psikis. Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, dokter Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman. 

Istrinya menjawab, “Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja”. Yang disebut “Goebbels” oleh istri dokter Poch kemungkinan adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman setia dan dekat dengan Hitler. Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari “Adolf”! 

Tekad dokter Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Kemudian, beliau memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa dokter Poch meninggal dunia dan dimakamkan di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Dokter Poch sendiri menikah dengan wanita Sunda bernama nyonya S, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar! 

Akhirnya dokter Sosrohusodo berhasil menemui nyonya S di rumahnya di Babakan, Ciamis. Sagat sulit memperoleh informasi dari nyonya S sebelum akhirnya dia berterus terang karena dibujuk oleh dokter Sosrohusodo. Dokumen-dokumen tertulis peninggalan dokter Poch diserahkan kepada dokter Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka dan rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S, diketahui bahwa dokter Poch meninggal pada tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung. Keesokan harinya, dokter Poch dimakamkan di desa Ngagel. 

Di dalam buku saku yang sudah lusuh peninggalan dokter Poch, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara dan juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semua catatan menggunakan bahasa Jerman. 

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” dokter Sosrohudodo. 

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Pada salah satu halaman terdapat tulisan jika diterjemahkan berbunyi: Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina). 

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yakni Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132. 

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie atau Klaus Altmann, seorang polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983, Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947. 

Dokter Sosrohusodo mengalami kesulitan saat menterjemahkan steno ke dalam bahasa Indonesia. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno tersebut adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger yang sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan. 

Tetapi penerbit tersebut di atas, berjanji akan mencarikan orang yang ahli steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “Keterangan Singkat Tentang Pengejaran Perorangan oleh Sekutu dan Penguasa Setempat Pada Tahun 1946 di Salzburg”. Kota Salzburg terdapat di negara Austria. 

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan di dalam steno siapakah ‘kami berdua’. Berdasarkan steno, kedua orang tersebut dikejar-kejar oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurutkan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. 

“Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” ungkap dokter Sosrohusodo. 

Dari singkatan-singkatan itu, lalu dokter Sosrohusodo mencoba untuk mengartikannya dengan cara mengkaitkannya dengan rute pelarian Hitler. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, dokter Sosrohusodo menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu, mereka keluar dari benua Eropa menuju ke suatu tempat di pulau Sumbawa Besar. 

Dokter Sosrohusodo mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Hal ini sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Rute pelarian Nazi diketahui dari surat rahasia Hitler yang ditemukan sete;lah pesawat yang mengangkutnya jatuh di Jerman Timur pada tahun 1945. 

Sedangkan dari hasil wawancara dengan nyonya S, didapat sebuah kebenaran bahwa suatu hari suaminya mencukur kumis seperti gaya Hitler yang lalu ditanyakan oleh nyonya S perihal tersebut. Ternyata, suaminya (dokter Poch) berkata bahwa dirinya adalah Hitler yang melarikan diri. 

Saat ini dokter Sosrohusodo telah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Isi diktat tersbut menceritakan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. 

Description: Pelarian Hitler ke Pulau Sumbawa, Indonesia Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Pelarian Hitler ke Pulau Sumbawa, Indonesia


.:: Artikel menarik lainnya ::.

25 komentar :

The international times telah menulis...

pembahasan yg lengkap tapi masih ragu dgn cerita dari dokter Sosrohusodo itu :)

Faril telah menulis...

Terimakasih atas waktunya untuk membaca artikel di blog ini.
Betul sekali. Banyak para ahli sejarah yang menyangkal pendapat dokter Sosrohusodo.
Bahkan, terdapat banyak cerita dari luar negeri yang mengklaim bahwa Hitler melarikan diri ke negara mereka.

Semoga ada perkembangan yang dapat meluruskan cerita sejarah ini. Bagaimanapun juga, ini merupakan salah satu sejarah besar yang menyangkut seluruh kehidupan bangsa di dunia, tidak hanya di negara Jerman saja.

tiwi telah menulis...

eheem,..sempet deg2an jg wkt si 'dr poch' dimakamkan di ngagel surabaya, itukan trmsk wil tmpt tinggalku...weleh2, tapi untuk mengetahui ttg sejarah kebenarannya, hrs ada kajian ulang dh kayaknya...btw tnx dah share faril...success 4 u...!

Faril telah menulis...

Karena Anda warga Surabaya dan dekat dengan lokasi pemakaman yang disebut di artikel, mungkin Anda bisa mencoba men-cek tempat pemakaman di desa Ngagel, Surabaya..
Apakah benar ada makam dari "dr Poch" di tempat tersebut..Hal ini dapat membuktikan kebenaran teori dokter Sosrohusodo,,apakah teori itu berdasarkan fakta atau tidak..
Terimakasih..

Ifan Qomarudin telah menulis...

Kalo memang benar, kenapa dimakamkan di Indonesia?

Faril telah menulis...

Mungkin karena Hitler tidak mau jasadnya ditemukan oleh pihak sekutu dan karena usianya yang sudah lanjut untuk melakukan perjalanan ke Jerman..Dan Indonesia adalah tempat yang tersembunyi dari pihak sekutu karena pada saat itu, hubungan Indonesia-Barat sedikit renggang..

Bagaimanapun juga, ini masih teori,belum disepakati para sejarawan sebagai sejarah yang benar..

konsultan warnet telah menulis...

ehmm..ternyata hittler meninggal di indonesia toh

Faril telah menulis...

konsultan warnet:
ini masih merupakan artikel dalam diktat,,jadi belum bisa dipastikan kebenarannya karena belum disetujui oleh para ahli sejarah

Anta Sena Bimantara telah menulis...

Hitler bukan orang asing ...

Faril Lukman telah menulis...

Maksudnya?

dik gundul telah menulis...

kalo bener hitler di kuburkan di surabaya..knp gak digali untuk tes dna ??

Faril Lukman telah menulis...

Kuburannya yang mana aja masih dirahasiakan, gimana mau mengambil sample tulang dan melakukan tes DNA?

Bunga seroja telah menulis...

Semua teori yg di paparkan masuk juga, tetapi kenapa tidak ada tindakan jelas untuk menindaklanjuti paparan yg di sampaikan Dr  Sosrohusodo.
Apa mungkin kita bisa tanya Mr Gogon aja ya???

Faril Lukman telah menulis...

Kan sudah dijelaskan di artikel bahwa tesis ini masih penuh kontroversi. Banyak yang belum setuju dengan teori ini.
Banyak orang dari negara lain yang mengklaim bahwa di negara mereka lah sebenarnya Hitler melarikan diri dan dikuburkan..

Ning_sumarni telah menulis...

Asslamualaikum namaku Ning Sumarni,  aku berasal dr Sumbawa Besar NTB, umurku 44 tahun, ketika aku bayi Dr. Poch seorang dokter jerman tinggi besar, yamg pincang kakkinya sebelah, dan datang dr luar negeri dengn mennggunakan kapal selam militer.....alhamdulillah telah menyelamatkanku dri sakit semasa bayi....waktu itu ayahku seorang pegawai PLN kelas rendahan yg tidak mempunyai biaya cukup untuk memberi susu bermutu kepada bayinya...bayi itu diberi susu sapi langsung...yg dimana sangat tdk cocok untuk bayi itu...dalam keadaaan sekarat Allah meyelamatkan bayi itu melalui tangan seorang Dr. poch.....maka bayi itu selamat....sampai sekarang alhamdulillah ......

Faril Lukman telah menulis...

Dr. Poch masih menjadi wacana saja apakah beliau Hitler atau bukan.. Tapi ternyata ada kebaikan dalam diri Dr. Poch..

wulan telah menulis...

wooww

Dasiyo Al-Muqodas telah menulis...

Sebelum mengambil keputusan kebenaran tulisan tentang kematian Hitler di Indonesia Kita perlu tahu terlebih dahulu detailnya sosok Dr. Sosrohusada

Dasiyo Al-Muqodas telah menulis...

'Alakumussalam. Tapi maaf ni, ye! Anti kok bisa cerita runtut, ye. Padahal ketika itu anti masih bayi.

Faril Lukman telah menulis...

Nah, karena itu teori ini masih dikaji dan dicari kebenarannya..

Faril Lukman telah menulis...

ini masih merupakan artikel dalam diktat,,jadi belum bisa dipastikan kebenarannya karena belum disetujui oleh para ahli sejarah

Faril Lukman telah menulis...

Menurut hemat saya, mungkin karena Hitler tidak mau jasadnya ditemukan oleh pihak sekutu dan karena usianya yang sudah lanjut untuk melakukan perjalanan ke Jerman..Dan Indonesia adalah tempat yang tersembunyi dari pihak sekutu karena pada saat itu, hubungan Indonesia-Barat sedikit renggang..

Bagaimanapun juga, ini masih teori,belum disepakati para sejarawan sebagai sejarah yang benar..

Faril Lukman telah menulis...

Karena Anda warga Surabaya dan dekat dengan lokasi pemakaman yang disebut di artikel, mungkin Anda bisa mencoba men-cek tempat pemakaman di desa Ngagel, Surabaya..
Apakah benar ada makam dari "dr Poch" di tempat tersebut..Hal ini dapat membuktikan kebenaran teori dokter Sosrohusodo,,apakah teori itu berdasarkan fakta atau tidak..
Terimakasih..

Faril Lukman telah menulis...

Terimakasih atas waktunya untuk membaca artikel di blog ini.
Betul sekali. Banyak para ahli sejarah yang menyangkal pendapat dokter Sosrohusodo.
Bahkan, terdapat banyak cerita dari luar negeri yang mengklaim bahwa Hitler melarikan diri ke negara mereka.

Semoga ada perkembangan yang dapat meluruskan cerita sejarah ini. Bagaimanapun juga, ini merupakan salah satu sejarah besar yang menyangkut seluruh kehidupan bangsa di dunia, tidak hanya di negara Jerman saja.

kris telah menulis...

Hallo,.. mas Faril... sebelum saya membaca artikel anda tentang "Pelarian Hitler Ke Pulau Sumbawa " saya telah membaca artikel sebelumnya tentang Misteri kematian Adolf Hitler,.. yang di tuliskan oleh banyak simpatisan ,... Saya sangat Bangga jika benar Hitler pernah Hadir dan hidup di Pulau sumbawa. Karena saya juga terlahir di pulau sumbawa ( kota sumbawa besar ), tepatnya di asrama Kompi B-742 yang lama,.. ayah saya adalah seorang militer di daerah itu,.. sedikit cerita dari saya : saat saya membaca artikel tersebut, saya tersentak kaget, dan penasaran......

Akhirnya saya mencoba mencari informasi tentang DR. GA POCH. apakah benar pernah ada di pulau sumbawa, yang kabarnya waktu itu menjadi kepala rumah sakit sumbawa. hasilnya, ternyata jawaban orang yang pertama kali saya tanya adalah Mama saya sendiri, ternyata benar. bahwa yang namanya dr poch pernah ada di sumbawa. sekitar tahun 1970 an. karena Mama saya waktu itu berada di Sumbawa besar pada th 1965.

Bahkan mama saya bercerita dr Ga poch adalah satu2nya dr asing yang ada di sumbawa-- pada waktu itu. dan mama saya pun selalu membawa anak2nya berobat k dokter poch. juga ketika mama saya sakit pun mam saya berobat ke beliau. tetapi cerita dari mama saya dr poch orangnya sedikit kasar dalam berbicara atau menyampaikan kepada pasiennya.

Dan menurut cerita mama saya, ada tetangga yang di asrama waktu itu sudah menjadi pelanggan tetap untuk berobat ke dr poch.

dan bahkan dr poch bertempat tinggal di salah satu rumah Bidan di kota itu yang adalah tetangga teman saya....

sekedar membagi informasi, saya adalah Kris,... yang lahir d sumbawa besar november 1974.... saya pribadi mendapat tantangan untuk membuktikan apakah benar DR GA. POCH itu adalah HItler,....

Bagi rekan-rekan yang memiliki satu visi dan misi untuk mengungkap tentang Siapa dr Ga Poch ini,... saya mendukung untuk mendapatkan informasi khususnya informasi atau data yang ada di sumbawa.

jangan putus asa, walaupun banyak sanggahan ataupun ungkapan yang seakan-akan menganggap "MUSTAHAL" kalo dr GA POCh adalah seorang ADOLF HITLER....

Yang perlu di ingat adalah " sejarah telah mencatat bahwa kematian HITLER sampai dengan saat ini masih misterius....." para ahli sudah membuktikan ternyata tengkorak kepala yang di yakini adalah tengkorak Hitler dan Eva braun, ternyata bukan tengkorak mereka.

Dan pihak pihak lain yang mengklaim bahwa di negara merekalah Adolf hitler mati, ternyata juga belum dapat di buktikan,...

Ini suatu peluang bagi bangsa kita untuk mendukung pembuktian atas kematian DR GA POCH, apakah dialah seorng HITler yang di cari-cari, atau bukan. Saya pribadi siap membantu dr SOSROHUSODO. dan bagi rekan-rekan yang berkeinginan untuk mengungkap ini, mari kita dukung beliau, ini semua demi terungkapnya CATATAN BARU SEJARAH ATAS KEMATIAN HITLER DI INDONESIA"... Saya yakin bila ini terbukti nama bangsa indonesia akan tercatat di Kamus dunia dan menjadi Negara yang di HInggapi SEJARAH DUNIA YANG BEGITU MENGHEBOHKAN"...

Maju terus Mas FARIL,..... mari kita ungkapkan sejarah dunia ini,...

Salam - KRIS Samawa ( dkbayak@gmail.com)

Tulis Komentar Anda di Sini...