Minggu, 24 April 2011

Gereja St. Yoseph Semarang


Gereja St. Yoseph didirikan sekitar tahun 1808 pada masa kolonial Belanda. Gereja ini berada di daerah Semarang Timur. Masyarakat sekitarnya lebih sering menyebut Gereja ini dengan nama Gereja Gedangan.

LOKASI
Gereja St. Yoseph beralamat di Jl. Ronggowarsito, Semarang Timur, Semarang, Jawa Tengah. Letaknya di kompleks Gereja Gedangan dan Susteran OSF. Batas-batas gereja adalah sebagai berikut: 
Batas utara : Pastoran Gedangan, Aula Gereja Bintang Laut
Batas timur : Perumahan penduduk 
Batas selatan : TK. Marsudirini 
Batas barat : jalan Ronggowarsito, Suster-suster St. Fransiskus, SD Marsudirini, Sekolah Tinggi Pastoran Kateketik St. Fransiskus assisi.

SEJARAH
Gereja Santo Yusuf atau St. Yoseph atau Gerja Gedangan di Jalan Ronggowarsito merupakan cikal bakal gereja Katolik di Indonesia. Sebelumnya, sekitar tahun 1808, Gubernur Jenderal Deandels yang saat itu menjadi penguasa di Hindia Belanda (Indonesia) mengangkat dua orang imam praja dari Belanda untuk melayani umat Katolik bangsa Eropa di Indonesia. 
Salah seorang di antaranya, Pastur L Prinsen Pr, ditempatkan di Semarang. Ketika itu, umat Katolik belum memiliki tempat ibadah sendiri dan masih menumpang melakukan ibadah di Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel atau Gereja Blenduk di dekat Taman Srigunting, kawasan (Kota Lama). Baru pada tahun 1815, dibangun sebuah Gereja Katolik, yakni Paroki Santo Yusup Semarang (Gereja Gedangan). Wilayah paroki meliputi Jateng, Jatim, dam Jabar. 
Namun, perjalanan Gereja Katolik sempat mengalami hambatan. Selama 1845-1847 semua pastor Belanda di Indonesia diusir, termasuk Uskup Groff, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Rochussen. Berkat perundingan dengan takhta suci (Vatikan) pada 1848, campur tangan Pemerintah Belanda diperlunak dan Gereja Katolik di Indonesia bisa terus berkembang. 
Setelah melalui perjuangan panjang, pada 1875 Pastor J Lijnen Pr mendirikan gedung Gereja Santo Yusuf Gedangan yang indah dan anggun hingga saat ini. Dari gereja inilah para imam Yesuit mencari jalan untuk mendobrak dinding pemisah yang mengotakkan antara masyarakat Eropa dan pribumi. 

SEJARAH PEMBANGUNAN
27 Desember 1808 
Rm PL Prinsen diangkat menjadi Pastor Stasi Semarang oleh Gubernur Jendral Daendels. 
1808 – 1815 
29 Januari 1809 
Dibentuk dewan Gereja atau pengurus dan PGPM 
1815 - 1822 
Umat melakukan misa di rumah warga Katholik 
1828 
PGM membeli rumah bekas Rumah Sakit di Zeestraat-Koolserstraat-Gedangan dan sekarang menjadi jalan Ronggowarsito. 
1854 - 1858 
Pastor JW Sanders mencari lokasi untuk didirikan Gereja. 
1. Hurrent Straat atau jalan Suprapto, tidak berhasil
2. Jalan Cendrawasih 23, kemudian dijual, sekarang ditempati PT Emkl Marabunta
3. Sekitar Taman Sigunting, dijadikan sebagai tempat ibadat darurat 
4. Daerah Gedangan
10 Oktober 1870 
Kurang lebih 650 tiang pancang dimasukkan ke dalam tanah yang kurang keras untuk menahan bangunan besar itu. Di atas pancang-pancang itu dibuat pondasi batu kali serta lantai. Perletakan batu pertama pembangunan gereja Gedangan, didatangkan dari Belanda. Ubin lantai dari Regout Maastricht. 
12 Mei 1873 
Usuk usuk atap sudah mulai dipasang. Tetapi hari itu juga atapnya runtuh karena tiang-tiang di sebelah kanan kurang kuat. Menurut sumber lain karena kualitas batu bata yang kurang baik. 
12 Desember 1875 
Gedung gereja gaya gothic yang diarsiteki oleh W. Ivan Bakel diberkati dan diresmikan oleh Mgr. J. Lijnen. Dana pembangunan sebesar f 110.000. Tanah di jalan Cendrawasih dan taman Sigunting dijual untuk membiayai pembangunan gereja. 
1876 
Menara gereja masih menggunakan atap. 
1880 
Dibuat altar baru model gothic yang dibuat di kota Duesseldolf. 
1882 
Dibuat bangku komuni, tetapi sejak Konsili Vatikan II tidak digunakan. Menara ditambah jam dan dua lonceng. Kaca jendela berwarna dan berbentuk stained glass. 
17 September 1891 
Kapel bergaya gothic dari Jerman dibuat. 
1976 
Pemugaran besar – besaran bangunan gereja.
1978 
Jam menara rusak dan diganti dengan tulisan IHS (Iesus Hominum Salvatur) 
1989 - 1990 
Rehabilitasi orgel. Pipa orgel di Gereja ini merupakan yang terbesar di Indonesia dan masih utuh. Sejumlah membran yang sudah rusak, asli dari kulit kelinci diganti dengan kulit kambing. 
1991 – 1992 
Renovasi gedung Gereja dengan sejumlah pergantiaan. Antara lain: genting biasa diganti asbes dari Jepang, plafond kayu diganti gypsum, lantai bermotif diganti dengan keramik dari Italia, cat ulang, lampu penerangan tunggal diganti dengan lampu “roloyong”. 
2004 
Sebelas kusen pintu dan jendela diganti, perawatan, pengecatan, rehab lukisan dan pengetasan rayap.

MENARA GEREJA
Menara Gereja berdiri tepat di atas pintu masuk. Pada masa lalu, dii menara Gereja terdapat jam menara yang bisa terlihat dari depan Gereja. Sistem mesin jam menara tersambung dengan lonceng kecil, sehingga lonceng tersebut dapat berbunyi setiap setengah jam. 
Namun, jam tersebut kini harus diturunkan karena sistem mesin dan jarum-jarum jam digantikan dengan tulisan IHS seperti sekarang ini. Adapun penggantian jam menara tersebut dilakukan sekitar tahun 1978 oleh Romo J Van Waijenburg SJ. Huruf IHS tersebut sebenarnya merupakan tiga huruf pertama dari nama Yesus seperti tertulis dalam abjad Yunani. Dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator yang berarti Yesus Penyelamat Manusia.


Sekarang, Gereja ini memiliki dua buah lonceng yang dan terdapat pada menara dan dibunyikan setiap setengah jam sebelum misa dimulai. Kedua lonceng itu memiliki ukuran yang berbeda. Lonceng besar (tinggi 93,5 cm dan diameter lubang bawah 90 cm) dan lonceng kecil (tinggi 75 cm, diamater lubang bawah 70 cm). Keduanya terbuat dari bahan besi cetak dengan ketebalan 7-8 cm untuk lonceng besar dan 5-6 cm untuk lonceng kecil. Di dalam lonceng tersebut terdapat tahun pembuatan, yakni April 1882, dibuat oleh perusahaan Petit en Fritsen di Aaerle Riktel dan dikirim ke Indonesia melalui Rotterdam. Pada permukaan lonceng juga tertera nama Joseph Andrieux, yang dalam buku sejarah Gereja adalah anak dari Ludovicus A Andrieux dan Catharina FE Marquise yang lahir pada 27 Maret 1823 dan sudah dibaptis di Semarang.

ALTAR DAN TABERNAKEL
Pada altar lama yang digunakan sebelum konsili Vatikan 2 tahun 1965 (pastor membelakangi umat). Patung Empat Tokoh Agung dari Perjanjian Lama dan Baru, yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek menghiasi altar lama di atas Tabernakel (tempat penyembahan). Patung ini didatangkan dari Jerman pada tahun 1880.

LUKISAN TRIFORIUM
Lukisan-lukisan di kanan-kiri langit-langit Gereja tersebut disebut dengan triforium. Triforium adalah bagian dari interior (ruang dalam) Gereja-Gereja gaya gothik dan sesudahnya. Tempatnya terletak di atas kolom sisi kana dan kiri. Pada Gereja ini, triforium tersebut diisi dengan lukisan-lukisan. Berjumlah 12 dengan teks berbahasa Belanda.

ORGEL PIPA
Orgel pipa (alat musik Gerejawi) yang menunjang Liturgi (upacara). Orgel yang dipasang tahun 1903 ini dibuat di Belanda tahun 1825 dan hanya terdapat 3 di dunia. Membrannya terbuat dari kulit kelinci.
Perbaikan pernah dilakukan pada than 1989-1990 dengan mengganti membrane yang rusak dengan kulit kambing. Saat ini, meskipun masih dapat digunakan, orgel pipa ini tidak dapat difungsikan secara maksimal karena beberapa bagiannya sudah rusak.

PATUNG HATI KUDUS
Patung Hati Kudus Yesus, terbuat dari kayu, berdiri di atas nisan Mgr Lijnen (pendiri gereja) yang konon berhasil diselamatkan dari pekuburan Kobong yang tidak terawat. Letaknya di sudut kiri gereja bagian belakang. Dulu, di tempat itu terdapat bejana baptis. 

*  *  *  *  *  *  *  *  *  *

Berdasarkan mata kuliah PELESTARIAN ARSITEKTUR
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Tim Penyusun:
Boni Fasius S  (L2B007017)

Priska Driastuti  (L2B007059)
Suwariyanti  (L2B007071)
Description: Gereja St. Yoseph Semarang Rating: 4.5 Reviewer: Faril ItemReviewed: Gereja St. Yoseph Semarang


.:: Artikel menarik lainnya ::.

2 komentar :

Tulis Komentar Anda di Sini...